Rabu, 01 April 2009

TANGGUNG JAWAB INDIVIDU DAN PRINSIP KESELAMATAN KERJA


Tidak adanya kecelakaan disuatu tempat kerja bukan berarti daerah tersebut sudah aman atau bebas dari hal-hal yang merugikan. Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan faktor penting dalam proses operasional sebuah perusahaan. Peraturan dan perundang-undangan telah mengarahkan kita kesuatu system guna meningkatkan efektifitas perusahaan melalui norma-norma keselamatan kerja.
Kita sangat yakini bersama bahwa kecelakaan tidak terjadi begitu saja tetapi ada beberapa faktor yang menyebabkannya yaitu:
· Unsafe condition (Kondisi tidak aman)
· Unsafe Action (Tindakan tidak aman)
· Kombinasi keduanya.

Sampai saat ini sebagian besar masih menyimpulkan bahwa faktor penyebab utama kecelakaan dilokasi kerja adalah Unsafe action atau tindakan tidak aman yang dilakukan para pekerja yang lebih dikenal dengan sebutan “HUMAN ERROR”, namun sebetulnya kita harus terus menelusuri mengapa pekerja sampai melakukan tindakan tidak aman, mungkin saja terdapat suatu system yang salah atau un-function sehingga terjadi human error. Objectives dari keselamatan tidak akan pernah terwujud selagi rasa kebersamaan, rasa memiliki dan tanggung jawab dari setiap individu yang terlibat dalam operasional sebuah perusahaan tidak dimiliki, baik itu dia sebagai pekerja ataupun dia berdiri didalam jajaran management atau pengusaha.
Sebetulnya safety itu sudah tumbuh pada setiap diri individu saat kita masih didalam lingkungan keluarga bahkan saat seseorang mulai bisa berfikir, coba kita perhatikan saat seorang anak kecil bermain dijalan raya atau memanjat pohon pasti secara spontan kita berusaha mencegahnya agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam tulisan ini, saya akan membahas secara random dan singkat beberapa hal yang sejalan dengan judul diatas antara lain:
1. Prinsip Dasar Keselamatan Kerja
2. Filosofi Keselamatan kerja
3. Sistem Management Pengendalian Kerugian
4. Hirarki Pengendalian terhadap Bahaya

Prinsip Dasar Keselamatan Kerja
Prinsip dasar dari keselamatan kerja adalah mencegah terjadinya kerugian, dimana kerugian itu sendiri dapat berupa :
· Kecelakaan kerja terhadap pekerja yang mengakibatkan pekerja cedera sakit, cacat ataupun meninggal dunia.
· Terhentinya atau terhambatnya suatu proses operational perusahaan.
· Rusaknya atau hilangnya harta (milik perusahaan maupun pribadi).
· Rusaknya lingkungan.

Filosofi Keselamatan kerja
Guna mencegah terjadinya kerugian akibat dari suatu accident, sebaiknya filosofi keselamatan kerja berikut ini harus benar benar dipahami dan dihayati oleh semua pihak yang terkait dengan proses operational suatu perusahaan, antara lain:
· Semua cedera dan penyakit akibat kerja dapat dicegah.
· Keselamatan kerja adalah tanggung jawab semua orang.
· Managemen bertanggung jawab langsung terhadap pencegahan cedera dan penyakit karena pekerjaan.
· Keselamatan adalah suatu syarat untuk mempekerjakan orang.
· Pelatihan adalah bagian penting dari keselamatan di tempat kerja.
· Pemeriksaan ( audit ) mengenai keselamatan kerja harus dilakukan .
· Praktek kerja secara aman / selamat harus ditekankan dan semua tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman harus dipebaiki sebagaimana mestinya.
· Adalah penting untuk melakukan penyelidikan cedera dan penyakit akibat kerja.
· Keselamatan di luar jam kerja adalah juga suatu bagian yang penting dalam usaha keselamatan.
· Mencegah cedera dan penyakit akibat kerja adalah suatu usaha yang bagus / baik.
· Manusia adalah bagian yang paling kritis dalam keberhasilan dari program keselamatan dan kesehatan.

Sistem Management Pengendalian Kerugian
Prinsip dasar keselamatan kerja tidak bisa terlepas dari upaya untuk mengendalikan kerugian . Mengendalikan kerugian perlu diatur sedemikian rupa, agar dapat diterapkan dilingkungan kerja . Usaha usaha pengendalian yang harus dibuat pada prinsipnya adalah langkah langkah pengendalian yang perlu diikuti:
3.1 Identifikasi terhadap pekerjaan (Identification of work)
3.2 Standard
3.3 Pengukuran (Measurement)
3.4 Evaluasi (Evaluation)
3.5 Penghargaan dan perbaikan

3.1 Identifikasi terhadap pekerjaan
Sebelum memulai pengendalian terhadap kerugian, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi serta memahami secara benar pekejaan apa saja yang dilakukan dilingkungan kerja tersebut . Tahap ini akan menentukan terhadap langkah langkah pengendalian berikutnya. Dengan teridentifikasinya pekerjaan, akan diketahui program-program yang diperlukan . Untuk mencapai target pekerjaan tanpa terjadinya kerugian. Program tersebut antara lain:
· Peraturan Perusahaan termasuk Peraturan K3LL.
· Kepempimpinan dan pengawasan.
· Pelatihan yang terencana.
· Inspeksi secara terencana.
· Analisa dan Observasi tugas.
· Ketersediaan prosedur kerja.
· Pertemuan-pertemuan (Meeting) kelompok.
· Prosedur dalam keadaan darurat.
· Penyelidikan kecelakaan.
· Penyediaan alat pelindung perorangan (PPE)
· dsb.

3.2 Standards
Setelah semua pekerjaan teridentifikasi dan program yang diperlukan telah ditentukan, selanjutnya perlu adanya penetapan standard hasil kerja yang diharapkan. Hal ini penting untuk mengetahui apakah target yang diharapkan terpenuhi atau tidak. Jadi program yang ada akan dapat diukur keberhasilannya. Standard terhadap keselamatan kerja para pekerja harus ditentukan juga, sehingga semua pekerja merasakan bahwa mereka benar-benar mempunyai perlindungan dan dijamin keselamatannya oleh perusahaan.

3.3 Pengukuran
Pada tahap ini dilakukan pengukuran terhadap hasil kerja. Sejauh mana program program keselamatan yang harus dicapai. Dalam “pengukuran safety” , harus dilihat sejauh mana konsekuensi yang akibat adanya aktifitas pekerjaan terhadap keselamatan para pekerjanya. Konsekuensi yang dimaksud bisa dalam segi kuatitas maupun tingkat keparahan suatu kerugian yang terjadi. Alat bantu dalam tahap pengukuran ini biasanya adalah merupakan formulir-formulir laporan inspeksi, laporan perawatan barang dsb., Dimana pada laporan tersebut tercantum beberapa hal yang berdasarkan hasil pengukuran masih belum memuaskan hasilnya atau sudah sesuai dengan yang diharapkan.

3.4 Evaluasi
Tahap evaluasi dilakukan guna menilai hasil kerja serta membandingkannya dengan standart atau target yang telah ditetapkan sebelumnya. Sehingga akan terlihat apakah hasil kerja yang telah diselesaikan sesuai dengan standard / target ataukah tidak. Evaluasi terhadap kerugian dilakukan dengan melihat sebanyak apa atau separah apa yang telah terjadi. Juga dievaluasi standard keselamatan yang telah ditetapkan terpenuhi atau tidak selama proses pencapaian target.

3.5 Penghargaan dan perbaikan
Setelah dilakukan evaluasi, perlu diberikan penghargaan apabila hasil yang dicapai sesuai dengan ( atau bahkan melebihi ) target yang telah ditetapkan. Namun langkah perbaikan juga harus dikerjakan bila ternyata hasil yang dicapai tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam standard.

Dari segi safety akan terlihat apakah banyak terjadi kerugian berupa cederanya pekerja, rusaknya alat ataupun terputusnya operasional selama masa pencapaian target. Rekomendasi untuk perbaikan cara kerja, program pendukung dsb. Harus diberikan apabila ternyata pencapaian terget tidak sebagaimana diharapkan.

Agar tercapai suatu hasil yang optimal dalam pengendalian kerugian, suatu hirarki pengendalian terhadap kerugian haruslah diikuti. Hirarki ini pada prinsipnya lebih menekankan pada pembenahan di sumber bahaya sampai akhirnya hirarki yang terakhir adalah pemakaian alat pelindung pada pekerja.
3.5.1 Eliminas
3.5.2 Subsitusi
3.5.3 Minimisasi
3.5.4 Control Engineering
3.5.5 Control administrasi
3.5.6 Pelatihan dan pengawasan
3.5.7 Alat pelindung perorangan (PPE)

3.5.1 Eliminasi
Langkah eliminasi merupakan langkah yang paling sederhana namun sekaligus paling efective. Pada langkah ini, sumber bahaya yang ada haruslah dihilangkan (eliminir).

3.5.2 Subsitusi
Apabila langkah eliminasi tidak dimungkinkan, maka dipakailah langkah subsitusi. Seringkali dalam suatu kegiatan industri diperlukan beberapa bahan yang berbahaya atau beracun. Dalam langkah substitusi, pemilihan bahan yang beracun ini diganti oleh bahan yang lain yang tidak beracun namun mempunyai fungsi yang sama dengan bahan beracun.

3.5.3 Minimisasi Bahaya
Sebuah prinsip penting ditempat kerja dimana bahan berbahaya tidak bisa di eliminasi maupun disubsitusi adalah dengan cara meminimisasi bahaya yang ada, dengan cara:
· Mengurangi jumlah bahan bahaya yang disimpan .
· Membatasi jumlah pekerja yang terpaksa bekerja ditempat kerja dimana terdapat bahan bebahaya.

3.5.4 Control Engineering
Control engineering dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:
· Control engineering di sumber bahaya, yaitu dengan membuat suatu proses yang secara otomatis akan berhenti apabila ada bahaya (shutdown), memasang “guarding” pada mesin yang bergerak, dsb.
· Control engineering untuk mengurangi keterpaparan (exposure limit) dilakukan dengan memasang exhaust, ventilasi, dsb.
· Pemisahan berdasarkan jarak (distance segregation) dilakukan agar bahaya yang ada tidak terpapar ke pekerja, denga cara menyimpan atau meletakkan bahan / proses yang berbahaya jauh dari lokasi yang banyak ditingali oleh pekerja.
· Pemisahan berdasarkan waktu (time segregation) dapat juga dilakukan untuk mengontrol bahaya agar bahaya yang terpapar tidak terlalu lama dialami pekerja .
· Pemisahan personel dilakukan dengan memindahkan pekerja keluar dari daerah yang terkontaminasi bahan berbahaya atau melingkungi(“enclose”) pekerja tadi ke daerah kerja yang mempunyai lingkungan yang bersih (misalnya dengan memasang AC di dalam kabin Crane dimana Crane tersebut terletak di daerah penuh debu.

3.5.5 Control Administrasi, Control Administrasi dilakukan dengan:
· Perubahan proses
· job rotasi
· Pemenuhan terhadap standart yang diakui secara international.
· Pemenuhan terhadap manual yang telah dikeluarkan oleh pabrik pembuat suatu peralatan yang berbahaya.
· Mengembangkan suatu SOP (Standard Operating Procedure)
· House keeping yang baik.

3.5.6 Pelatihan dan Pengawasan
Pelatihan dimaksudkan agar para pekerja tahu benar kemungkinan bahaya akan dihadapinya serta cara penanganan yang benar. Pengawasan diperlukan untuk menjamin apakah segala standart yang harus dipenuhi sudah dilaksanakan sebagaimana mestinya ataukah belum.

3.5.7 Alat Pelindung Perorangan (PPE)
PPE ini bertujuan untuk memisahkan antara pekerja dengan sumber bahaya.
Yang harus diingat adalah PPE merupakan hirarki terakhir dalam mengendalikan bahaya apabila semua hirarki di atasnya telah dilakukan.

Apabila kita telah mendalami dan memahami hirarki pengendalian kerugian, diharapkan kita mulai bisa mengembangkan suatu rencana dalam pengendalian kerugian. Namun karena kegiatan harus tetap terselenggara, berarti harus ada “ perlakuan “ agar kegiatan memungkinkan dilakukan dengan aman.
Perlakuan pengendalian ini dimaksudkan agar resiko atau bahaya yang mungkin akan dihadapi bisa menjadi di toleransi dan dapat diterima secara aman oleh pekerja. Tetapi apabila upaya untuk mentoleransi bahaya ini gagal, pekerjaan harus diserahkan (transfer) kepada mereka yang ahli di bidang pekerjaan beresiko tinggi tersebut.

Keberhasilan program keselamatan dan kesehatan kerja serta perlindungan lingkungan adalah didasarkan pada sikap positif dari setiap individu. Setiap individu dituntut dan diharuskan merubah kebisaan yang buruk, yang cendrung bertindak tidak aman, ada beberapa hal yang dapat diikuti agar kita mampu menghilangkan kebiasaan yang buruk, namun sekali lagi terpulang kepada kita semua.

Langkah-langkah untuk membiasakan bekerja dengan tindakan aman dan selamat diantaranya:
· Dapatkan pengetahuan cara mengerjakan sesuatu dengan aman/selamat, ini dapat belajar dari orang lain ataupun atas dasar analisa sendiri.
· Dengan kesadaran yang kuat latihlah kebiasaan tersebut sehingga menjadi kebiasaan kita.
· Biasakan berfikir dengan sistematis dan berencana dalam mengerjakan pekerjaan.

Sesungguhnya semua kebiasaan adalah sesuatu hal yang dasar dalam diri kita, sebab kebiasaan itu merefleksikan perasaan kita yang tercetus secara tidak sadar. Inilah sebabnya maka kita tidak memikirkanlagi cara kita makan, berjalan dan cara kita menjalankan hal-hal yang rutin sehari-hari.
Kebiasaan adalah suatu hasil dari respons-respons yang di precondition (dicetak) terhadap rangsangan (stimulasi) tertentu. Bahkan kebiasaan ini tetap berjalan terus meskipun situasinya telah berobah. Sehingga dengan demikian kalau kita dengan sengaja dan sadar melatih diri mengikuti cara-cara bekerja dengan aman dan selamat maka ini akan menjadi preconditioning. Setelah kita terbiasa pada cara tersebut meskipun kita tidak sengaja mengerjakannya waktu kita dihadapkan pada macam kerja itu, secara otomatis kita akan melakukannya sesuai latihan kita terdahulu.
Namun demikian melawan kebiasaan lama dan membuat kebiasaan baru tidaklah mudah, Untuk memberikan sugesti kepada diri kita supaya lebih mudah merobah kebiasaan yang tidak baik yang bisa membahayakan, ikutilah pedoman berikut ini:
· Temukan dalam diri kita apa yang menyebabkan kita bertingkah laku yang membahayakan itu (basic problem).
· Tumbuhkan kepercayaan bahwa kita dapat merobah kebiasaan lama kita.
· Pegang teguh apa basic problem kita, pusatkan pemikiran untuk mengatasinya, akuilah dengan kesadaran kegagalan-kegagalan kita.
· Bayangkan dan sadari konsejuensi-konsekuensi dari kebiasaan jelek itu dengan sungguh-sungguh, sehingga kita akan mau untuk sementara merasakan rasa penderitaan selama melawannya.
· Bayangkan dan rasakan sesuatu yang memberikan kepuasan untuk sementara menggantikan rasa penderitaan.
· Arahkan diri kita kepada pola kebiasaan yang positif yang akan memberikan keuntungan (reward).

Ada tiga hal penting dalam Safety, yang baik untuk diterapkan dilingkungan kerja kita yaitu:
Berfikirlah Sebelum Melakukan Kerja, Buatkan JSA Untuk Setiap Pekerjaan, dan Ini Tidak Terbatas Hanya Pada Jenis Pekerjaan Yang Riskan atau Pada Setiap Pekerjaan Yang Tidak Umum Saja.
Setiap Orang Dapat Menghentikan Suatu Kegiatan/Pekerjaan Bila Ditemukan Tindakan Tidak Aman dan Atau Kondisi Tidak Aman, Kegiatan Dapat Dilanjutkan Bila Tindakan Tidak Aman dan Atau Kondisi Tidak Aman Telah Diperbaiki dan Dapat Menjamin Keselamatan Pekerja Bila Pekerjaan Dilanjutkan
Semua Kejadian Kecelakaan dan Nyaris Celaka Harus Dilaporkan, Diselidiki, Ditindak Lanjuti dan Diselesaikan, Agar hal Yang Sama Tidak Terjadi Lagi Dimasa Mendatang

Sekian tulisan saya untuk periode ini Saya mengharapkan seluruh pekerja dan kita semua dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari selalu mengikuti standards keselamatan kerja yang benar, sehingga terwujudnya objectives dari keselamatan kerja itu sendiri, semoga bermanfaat dan terima kasih.


(K3-LH)

Comments :

0 komentar to “TANGGUNG JAWAB INDIVIDU DAN PRINSIP KESELAMATAN KERJA”

Poskan Komentar

Safety Pictures

Blog Archive

 

Copyright © 2009 by Quality Health Safety Environment